Hujan ‘tlah tiba…
Hujan ‘tlah tiba…
Horee.... horeeee! ….. horeeeee!!!
Mungkin kira-kira seperti itulah lagu anak-anak “Libur ‘tlah tiba” yang dipopulerkan oleh Tasya bila sedikit diplesetkan. Akan terdengar sangat bersemangat untuk merayakan datangnya kucuran air dari langit. Betapa tidak, akhirnya hujan yang dinanti-nanti telah tiba membasahi kota Samarinda untuk beberapa hari terakhir. Meskipun membawa masalah baru: banjir. Seiring dengan datangnya hujan, perlahan namun pasti, rintik-rintik air mengusir pergi kabut asap yang sempat menyelimuti kota Samarinda selama beberapa waktu, yang bahkan menyebabkan beberapa penerbangan lokal sampai dibatalkan.
Kabut asap. Pastilah penduduk pulau Kalimantan dan sebagian Sumatera sudah tidak asing dengan kabut asap, termasuk penduduk negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang sudah beberapa kali komplain pada Indonesia. Setiap memasuki musim kemarau, selalu saja ancaman kabut asap menghantui. Paling tidak, hal ini sudah terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Yang menjadi pertanyaan adalah, sampai kapan “hadiah” kabut asap ini akan terus dinikmati?
Mungkin sudah banyak usaha yang dilakukan oleh banyak pihak untuk mengatasi masalah kabut asap yang selalu menjadi langganan itu. Namun sebaliknya, mungkin banyak pihak pula yang turut berkontribusi terhadap pemberian “hadiah” itu? Bukankah tak ada asap bila tak ada api?
Berbicara tentang masalah asap, pasti tidak akan lepas dari kebakaran. Dan bila bicara tentang kebakaran, pasti akan tergelitik untuk menanyakan penyebabnya. Sudah banyak penelitian tentang penyebab kebakaran hutan dan lahan yang terjadi. Dan semua itu ternyata sangatlah kompleks, seperti benang kusut, seperti lingkaran yang susah diketahui mana ujung pangkalnya. Banyak hal yang saling terkait, atau dalam istilah kerennya “underlaying causes”.
Walaupun demikian, hal yang pasti untuk mengatasi masalah ini adalah, kesadaran kita semua untuk mencegah dan adanya penegakan dan perangkat hukum yang memadai. Hmm…. Sungguh suatu teori yang mudah untuk diucapkan, namun sangatlah sulit untuk dipraktekkan. Meski terdengar seperti mimpi di siang bolong, saya tak ingin berhenti berharap. Semoga saja, perlahan namun pasti, seperti rintik-rintik air yang mengusir pergi kabut asap, permasalahan ini pada akhirnya akan ada solusinya. Negara maju seperti Australia dan Amerika saja memerlukan waktu lebih dari seratus tahun untuk membangun sistem penanggulangan kebakaran hutan dan lahan mereka. Dan sesekali waktu masih “disapa” masalah itu. Mungkin negara kita tercinta hanya memerlukan sedikit waktu lagi.. semoga hanya sedikit, sehingga lagu “Libur ‘tlah tiba” tidak perlu diplesetkan lagi menjadi “Hujan ‘tlah tiba” atau bahkan “Asap ‘tlah tiba”….. Horeee… Horeee… Horeeee!!!
Bedroom, 12112006 00:20. (ni)2
Sunday, November 12, 2006
Thursday, September 28, 2006
Bersin
Pagi ini begitu saya masuk ruangan di kantor, saya langsung membongkar 2 buah kardus yang berisi barang-barang yang belum ditata sejak pindahan kantor bulan Mei yang lalu….Bayangkan! Bulan Mei! Sekarang sudah bulan September..
Namun, sebelumnya tidak banyak yang bisa saya lakukan supaya barang-barang itu bisa tertata karena lemarinya memang belum ada. Baru ada beberapa saat yang lalu dan saya belum ada waktu sampai hari ini. Sebenarnya saya enggan untuk membongkar barang-barang, bukannya malas, tapi karena saya sudah tahu konsekuensinya. Saya pasti akan bersin-bersin dengan hebat, terus menerus, lalu mata berair, meler dan dilanjutkan kepala pening… ugghhh…
Benar saja, baru beberapa buku dan berkas yang saya bongkar, bersin-bersin sudah terjadi.. tanpa henti sampai otot perut tertarik semua… sebel.. Disambung dengan meler seperti air deras yang turun dari pancuran… bagaimana bisa cepet selesai menata barang-barang bila harus sibuk bersin, sambil memencet hidung, berusaha membendung air bah, bersin lagi..lagi..lagi…?
Hmm….. lalu seperti yang sudah saya duga, kepala saya menjadi pening..ning..ning… Akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan kegiatan bongkar membongkar ini. Dilanjutkan besok saja. Saya keluar ruangan untuk menghirup udara segar. Berharap bersin dan meler serta pening kepala bisa lebih baik. Walaupun saya tahu pasti tidak akan hilang.
Itulah salah satu masalah yang cukup serius pada saya. Alergi debu rumah. Apalagi debu buku hmmm… Kalau hanya bersin sih masih lumayan, tapi meler plus peningnya itu lho, yang sungguh merepotkan sekali. Saya sudah berkonsultasi dengan beberapa dokter ahli THT, bahkan sampai dikamera dan discan segala. Kesimpulannya sama. Alergi saya tidak dapat disembuhkan, kalau lagi parah, saya harus mengkonsumsi obat. Celakanya obat alergi ini selalu menimbulkan kantuk dan menyebabkan rasa lapar, sehingga perasaan ingin makan.. tidur.. makan.. tidur.. makan lagi…tidur lagi… Wuih…parah kan?
Konon, akibat dari alergi ini, daging dalam hidung saya membengkak, sampai menekan tulang tengah hidung sehingga agak miring (oh… my poor nose). Kalau lagi parah-parahnya, saya jadi susah bernapas karena rongga hidung yang mampet. Paling terasa pada saat mau tidur. Salah seorang ahli THT menyarankan agar hidung saya dioperasi sekalian dengan tonsil. Saat dia memeriksa, konon tonsil saya juga sudah tidak berfungsi, hanya sering menyebabkan radang tenggorokan. Waduh.. operasi? Takuuuuuutt…..
Namun walaupun demikian, saya masih merasa sangat bersyukur. Kenapa bisa? Karena sudah lebih 6 tahun asma saya tidak pernah kambuh. Asma lebih mengerikan daripada bersin, meler dan pening. Kalau sekarang reaksi alergi saya hanya bersin, meler dan pening, sedangkan dulu, begitu kena debu rumah saat bersih-bersih atau bongkar-bongkar, malamnya langsung asma saya kambuh. Jangankan tidur, mencari napas saja susahnya setengah mati walau dalam keadaan duduk. Saat itulah saya sangat-sangat iri dengan saudara-saudara saya yang lain, mereka bisa tidur dengan pulas, bernapas dengan leluasa, sedangkan saya harus berjuang setengah mati untuk menarik setiap napas ke dalam rongga paru-paru saya. Bagaimana saya tidak iri, di keluarga saya, mulai dari ayah, ibu, kakak-kakak dan adik, hanya saya yang menderita asma.
Oleh karena itu saya merasa sangat bersyukur, karena 6 tahun ini saya bisa menikmati bernapas tanpa harus bersusah payah sekuat tenaga mengembangkan paru-paru saya sampai dada terasa sakit sekali. Meskipun masih ada sedikit gangguan dengan hidung yang mampet. Sejak usia saya 5 tahun sampai awal 20-an, saya benar-benar tersiksa bila asma saya kambuh. Pemicunya bisa sangat sederhana: kehujanan, kena debu rumah, makan es, coklat atau gorengan, bahkan bila emosi lagi tidak stabil (menangis dan tertawa saja asma saya bisa kambuh!)
Semoga saja saya tidak pernah harus merasakan asma kambuh lagi. Semoga 6 tahun ini dan seterusnya saya bena-benar terbebas. Saya sangat menyadari betapa berharganya setiap tarikan napas. Betapa nikmatnya bernapas dengan bebas.
Office, 19:37, 28092006.
Namun, sebelumnya tidak banyak yang bisa saya lakukan supaya barang-barang itu bisa tertata karena lemarinya memang belum ada. Baru ada beberapa saat yang lalu dan saya belum ada waktu sampai hari ini. Sebenarnya saya enggan untuk membongkar barang-barang, bukannya malas, tapi karena saya sudah tahu konsekuensinya. Saya pasti akan bersin-bersin dengan hebat, terus menerus, lalu mata berair, meler dan dilanjutkan kepala pening… ugghhh…
Benar saja, baru beberapa buku dan berkas yang saya bongkar, bersin-bersin sudah terjadi.. tanpa henti sampai otot perut tertarik semua… sebel.. Disambung dengan meler seperti air deras yang turun dari pancuran… bagaimana bisa cepet selesai menata barang-barang bila harus sibuk bersin, sambil memencet hidung, berusaha membendung air bah, bersin lagi..lagi..lagi…?
Hmm….. lalu seperti yang sudah saya duga, kepala saya menjadi pening..ning..ning… Akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan kegiatan bongkar membongkar ini. Dilanjutkan besok saja. Saya keluar ruangan untuk menghirup udara segar. Berharap bersin dan meler serta pening kepala bisa lebih baik. Walaupun saya tahu pasti tidak akan hilang.
Itulah salah satu masalah yang cukup serius pada saya. Alergi debu rumah. Apalagi debu buku hmmm… Kalau hanya bersin sih masih lumayan, tapi meler plus peningnya itu lho, yang sungguh merepotkan sekali. Saya sudah berkonsultasi dengan beberapa dokter ahli THT, bahkan sampai dikamera dan discan segala. Kesimpulannya sama. Alergi saya tidak dapat disembuhkan, kalau lagi parah, saya harus mengkonsumsi obat. Celakanya obat alergi ini selalu menimbulkan kantuk dan menyebabkan rasa lapar, sehingga perasaan ingin makan.. tidur.. makan.. tidur.. makan lagi…tidur lagi… Wuih…parah kan?
Konon, akibat dari alergi ini, daging dalam hidung saya membengkak, sampai menekan tulang tengah hidung sehingga agak miring (oh… my poor nose). Kalau lagi parah-parahnya, saya jadi susah bernapas karena rongga hidung yang mampet. Paling terasa pada saat mau tidur. Salah seorang ahli THT menyarankan agar hidung saya dioperasi sekalian dengan tonsil. Saat dia memeriksa, konon tonsil saya juga sudah tidak berfungsi, hanya sering menyebabkan radang tenggorokan. Waduh.. operasi? Takuuuuuutt…..
Namun walaupun demikian, saya masih merasa sangat bersyukur. Kenapa bisa? Karena sudah lebih 6 tahun asma saya tidak pernah kambuh. Asma lebih mengerikan daripada bersin, meler dan pening. Kalau sekarang reaksi alergi saya hanya bersin, meler dan pening, sedangkan dulu, begitu kena debu rumah saat bersih-bersih atau bongkar-bongkar, malamnya langsung asma saya kambuh. Jangankan tidur, mencari napas saja susahnya setengah mati walau dalam keadaan duduk. Saat itulah saya sangat-sangat iri dengan saudara-saudara saya yang lain, mereka bisa tidur dengan pulas, bernapas dengan leluasa, sedangkan saya harus berjuang setengah mati untuk menarik setiap napas ke dalam rongga paru-paru saya. Bagaimana saya tidak iri, di keluarga saya, mulai dari ayah, ibu, kakak-kakak dan adik, hanya saya yang menderita asma.
Oleh karena itu saya merasa sangat bersyukur, karena 6 tahun ini saya bisa menikmati bernapas tanpa harus bersusah payah sekuat tenaga mengembangkan paru-paru saya sampai dada terasa sakit sekali. Meskipun masih ada sedikit gangguan dengan hidung yang mampet. Sejak usia saya 5 tahun sampai awal 20-an, saya benar-benar tersiksa bila asma saya kambuh. Pemicunya bisa sangat sederhana: kehujanan, kena debu rumah, makan es, coklat atau gorengan, bahkan bila emosi lagi tidak stabil (menangis dan tertawa saja asma saya bisa kambuh!)
Semoga saja saya tidak pernah harus merasakan asma kambuh lagi. Semoga 6 tahun ini dan seterusnya saya bena-benar terbebas. Saya sangat menyadari betapa berharganya setiap tarikan napas. Betapa nikmatnya bernapas dengan bebas.
Office, 19:37, 28092006.
Friday, September 15, 2006
As Time Goes by..
Here I’m, in my bed room; try to spend a little time to reflect. I often amazed how time could run so fast, how it could change things, affecting people. So, here I’m, feel so grateful that I’ve been blessed, still breathing and healthy until this very moment, a countdown to my birthday. Still surrounded by my big family, as well as kind and nice friends. So grateful that until this moment, I believe that there are people who love and care about me, no matter whatever I’ve been going through, always give their support event in the darkest days of my life. I’ve been so lucky, and I really grateful for it.Here I’m, in my bed room. Listening to Rod Stewart’s “Sailing”, from the CD.
“.. I’m flying, I’m flying,
Like a bird ‘cross the sky
I’m flying, passing high clouds
To be near you, to be free..”
Could we be forever free? It’s hard to tell. Freedom is so expensive, some even sacrifying lives for that. Personal freedom? There are some invisible bindings that tie you so hard. You will always have to consider things that you are going to do. Whether other will mind about it. What will other people think about it? Until this moment, I’m enjoying my life. I feel free, even of course there are still some bindings. Therefore there is a big question in my mind. How long I can enjoy my freedom? Meanwhile time is running so fast, no way back. Nothing will stay the same. Time will change everything. Sooner or later I will have to face changes. Perhaps I could manage and live happily with it, or, in the other way around, it would turn my life down. “Nothing is certain, except the uncertainty it self”, said Einstein. So, here I’m, in my bed room. Try to think wise, because nothing is eternal. An easy sentence to say, but hard to do.
Talking about uncertainty, yes, lot’s of things happened and changed. I think I’ve been loosing good friends (really sad about it, but perhaps time has proved which are really good friends and which are not, just like a nature selection) but in the other hand, I made some new friends. But anyhow, it’s a topic to introspect my self. That’s life, isn’t it?
Here I’m, still in my bed room. Just received messages and a called to wish me all the best for my future. Thank you, from the bottom of my heart. Seems my childhood just yesterday, but suddenly, I realize, it had been passing a long time ago and until this very moment, I’ve done nothing that could be proud of, did mistakes. I hope I could be a better person. Think and act wisely and maturely.
So, here I’m, despite of all my weak sides, I’m still grateful with all I’ve been blessing with, with all I’ve got, being whatever I’m now. Just be my self. I would like to take this opportunity to thank my family, my friends where ever you are. Samarinda, Berau, Balikpapan, Jakarta, Surabaya, Palembang, Aceh, Germany, USA, Bostwana, Honduras, anywhere. Thank you for caring about me, thank you for taking me as I’m. Thank you for making my life so colorful and thank you for loving me. You’re all the best. Love you all.
Bed room, 10092006, 00:22 am
Subscribe to:
Posts (Atom)
