Thursday, September 28, 2006

Bersin

Pagi ini begitu saya masuk ruangan di kantor, saya langsung membongkar 2 buah kardus yang berisi barang-barang yang belum ditata sejak pindahan kantor bulan Mei yang lalu….Bayangkan! Bulan Mei! Sekarang sudah bulan September..

Namun, sebelumnya tidak banyak yang bisa saya lakukan supaya barang-barang itu bisa tertata karena lemarinya memang belum ada. Baru ada beberapa saat yang lalu dan saya belum ada waktu sampai hari ini. Sebenarnya saya enggan untuk membongkar barang-barang, bukannya malas, tapi karena saya sudah tahu konsekuensinya. Saya pasti akan bersin-bersin dengan hebat, terus menerus, lalu mata berair, meler dan dilanjutkan kepala pening… ugghhh…

Benar saja, baru beberapa buku dan berkas yang saya bongkar, bersin-bersin sudah terjadi.. tanpa henti sampai otot perut tertarik semua… sebel.. Disambung dengan meler seperti air deras yang turun dari pancuran… bagaimana bisa cepet selesai menata barang-barang bila harus sibuk bersin, sambil memencet hidung, berusaha membendung air bah, bersin lagi..lagi..lagi…?

Hmm….. lalu seperti yang sudah saya duga, kepala saya menjadi pening..ning..ning… Akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan kegiatan bongkar membongkar ini. Dilanjutkan besok saja. Saya keluar ruangan untuk menghirup udara segar. Berharap bersin dan meler serta pening kepala bisa lebih baik. Walaupun saya tahu pasti tidak akan hilang.

Itulah salah satu masalah yang cukup serius pada saya. Alergi debu rumah. Apalagi debu buku hmmm… Kalau hanya bersin sih masih lumayan, tapi meler plus peningnya itu lho, yang sungguh merepotkan sekali. Saya sudah berkonsultasi dengan beberapa dokter ahli THT, bahkan sampai dikamera dan discan segala. Kesimpulannya sama. Alergi saya tidak dapat disembuhkan, kalau lagi parah, saya harus mengkonsumsi obat. Celakanya obat alergi ini selalu menimbulkan kantuk dan menyebabkan rasa lapar, sehingga perasaan ingin makan.. tidur.. makan.. tidur.. makan lagi…tidur lagi… Wuih…parah kan?

Konon, akibat dari alergi ini, daging dalam hidung saya membengkak, sampai menekan tulang tengah hidung sehingga agak miring (oh… my poor nose). Kalau lagi parah-parahnya, saya jadi susah bernapas karena rongga hidung yang mampet. Paling terasa pada saat mau tidur. Salah seorang ahli THT menyarankan agar hidung saya dioperasi sekalian dengan tonsil. Saat dia memeriksa, konon tonsil saya juga sudah tidak berfungsi, hanya sering menyebabkan radang tenggorokan. Waduh.. operasi? Takuuuuuutt…..

Namun walaupun demikian, saya masih merasa sangat bersyukur. Kenapa bisa? Karena sudah lebih 6 tahun asma saya tidak pernah kambuh. Asma lebih mengerikan daripada bersin, meler dan pening. Kalau sekarang reaksi alergi saya hanya bersin, meler dan pening, sedangkan dulu, begitu kena debu rumah saat bersih-bersih atau bongkar-bongkar, malamnya langsung asma saya kambuh. Jangankan tidur, mencari napas saja susahnya setengah mati walau dalam keadaan duduk. Saat itulah saya sangat-sangat iri dengan saudara-saudara saya yang lain, mereka bisa tidur dengan pulas, bernapas dengan leluasa, sedangkan saya harus berjuang setengah mati untuk menarik setiap napas ke dalam rongga paru-paru saya. Bagaimana saya tidak iri, di keluarga saya, mulai dari ayah, ibu, kakak-kakak dan adik, hanya saya yang menderita asma.

Oleh karena itu saya merasa sangat bersyukur, karena 6 tahun ini saya bisa menikmati bernapas tanpa harus bersusah payah sekuat tenaga mengembangkan paru-paru saya sampai dada terasa sakit sekali. Meskipun masih ada sedikit gangguan dengan hidung yang mampet. Sejak usia saya 5 tahun sampai awal 20-an, saya benar-benar tersiksa bila asma saya kambuh. Pemicunya bisa sangat sederhana: kehujanan, kena debu rumah, makan es, coklat atau gorengan, bahkan bila emosi lagi tidak stabil (menangis dan tertawa saja asma saya bisa kambuh!)

Semoga saja saya tidak pernah harus merasakan asma kambuh lagi. Semoga 6 tahun ini dan seterusnya saya bena-benar terbebas. Saya sangat menyadari betapa berharganya setiap tarikan napas. Betapa nikmatnya bernapas dengan bebas.


Office, 19:37, 28092006.

0 comments: