Sunday, November 12, 2006

Hujan ‘Tlah Tiba

Hujan ‘tlah tiba…
Hujan ‘tlah tiba…
Horee.... horeeee! ….. horeeeee!!!


Mungkin kira-kira seperti itulah lagu anak-anak “Libur ‘tlah tiba” yang dipopulerkan oleh Tasya bila sedikit diplesetkan. Akan terdengar sangat bersemangat untuk merayakan datangnya kucuran air dari langit. Betapa tidak, akhirnya hujan yang dinanti-nanti telah tiba membasahi kota Samarinda untuk beberapa hari terakhir. Meskipun membawa masalah baru: banjir. Seiring dengan datangnya hujan, perlahan namun pasti, rintik-rintik air mengusir pergi kabut asap yang sempat menyelimuti kota Samarinda selama beberapa waktu, yang bahkan menyebabkan beberapa penerbangan lokal sampai dibatalkan.

Kabut asap. Pastilah penduduk pulau Kalimantan dan sebagian Sumatera sudah tidak asing dengan kabut asap, termasuk penduduk negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang sudah beberapa kali komplain pada Indonesia. Setiap memasuki musim kemarau, selalu saja ancaman kabut asap menghantui. Paling tidak, hal ini sudah terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Yang menjadi pertanyaan adalah, sampai kapan “hadiah” kabut asap ini akan terus dinikmati?

Mungkin sudah banyak usaha yang dilakukan oleh banyak pihak untuk mengatasi masalah kabut asap yang selalu menjadi langganan itu. Namun sebaliknya, mungkin banyak pihak pula yang turut berkontribusi terhadap pemberian “hadiah” itu? Bukankah tak ada asap bila tak ada api?

Berbicara tentang masalah asap, pasti tidak akan lepas dari kebakaran. Dan bila bicara tentang kebakaran, pasti akan tergelitik untuk menanyakan penyebabnya. Sudah banyak penelitian tentang penyebab kebakaran hutan dan lahan yang terjadi. Dan semua itu ternyata sangatlah kompleks, seperti benang kusut, seperti lingkaran yang susah diketahui mana ujung pangkalnya. Banyak hal yang saling terkait, atau dalam istilah kerennya “underlaying causes”.

Walaupun demikian, hal yang pasti untuk mengatasi masalah ini adalah, kesadaran kita semua untuk mencegah dan adanya penegakan dan perangkat hukum yang memadai. Hmm…. Sungguh suatu teori yang mudah untuk diucapkan, namun sangatlah sulit untuk dipraktekkan. Meski terdengar seperti mimpi di siang bolong, saya tak ingin berhenti berharap. Semoga saja, perlahan namun pasti, seperti rintik-rintik air yang mengusir pergi kabut asap, permasalahan ini pada akhirnya akan ada solusinya. Negara maju seperti Australia dan Amerika saja memerlukan waktu lebih dari seratus tahun untuk membangun sistem penanggulangan kebakaran hutan dan lahan mereka. Dan sesekali waktu masih “disapa” masalah itu. Mungkin negara kita tercinta hanya memerlukan sedikit waktu lagi.. semoga hanya sedikit, sehingga lagu “Libur ‘tlah tiba” tidak perlu diplesetkan lagi menjadi “Hujan ‘tlah tiba” atau bahkan “Asap ‘tlah tiba”….. Horeee… Horeee… Horeeee!!!


Bedroom, 12112006 00:20. (ni)2