Wednesday, April 02, 2008

Konservasi dan Religi


Sejak mulai bekerja kurang lebih 12 tahun yang lalu di bidang non profit yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan konservasi, sudah banyak sekali workshop atau lokakarya yang saya hadiri. Baik yang diselenggarakan di Ibukota Provinsi, Ibukota Kota Kabupaten, Ibukota kecamatan maupuan di kampung. Baik yang mengambil tempat di hotel berbintang lima, hotel berbintang tiga, hotel melati, di ruang serba guna, ruang meeting, rumah penduduk, balai desa dan yang paling unik adalah lokakarya yang saya hadiri di kersik (hamparan batu putih di pinggir hulu sungai).

Dari kesemua lokakarya tersebut, biasanya pesertanya adalah pegawai pemerintah dari instansi-instansi terkait, pegawai pemprov, pemkab, kecamatan, kepala desa, tokoh adat, LSM, Lembaga Kerjasama Internasional, perwakilan dari masyarakat, pengurus badan pengelola kawasan, pers, mahasiswa, pendidik, perwakilan dari lembaga peneliti, akademisi dan ilmuwan.

Namun ada yang berbeda hari ini. Hari ini saya berkesempatan untuk menghadiri Lokakarya Penyusunan Multi Criteria Evaluation untuk sebuah lansekap di Sumatera Utara. Lokakarya diadakan oleh Orangutan Conservation Service Project (OCSP) di hotel berbintang di kota Medan. Dari peserta yang hadir, ada seseorang yang nampak lain, sampai-sampai saat memasuki ruang workshop sebelum acara dimulai, saya fikir saya salah masuk ruangan. Saat itu saya melihat seorang Bhikkhu. Awalnya saya kira ruangan tersebut adalah ruangan untuk acara religi, namun ketika saya perhatikan tulisan di depan ruangan dan melihat beberapa orang lainnya yang berpakaian dinas serta beberapa rekan dari OCSP Medan, barulah saya yakin bahwa saya tidak salah masuk.

Dari sekian banyak workshop yang terkait dengan masalah konservasi, baru kali inilah saya melihat seorang Bhikku hadir. Ia mengenakan atasan lengan panjang berwarna kuning pucat di balik jubah yang berwarna sama. Berkaos kaki panjang warna putih sampai lutut yang dikenakan diluar celana panjang yang juga berwarna kuning pucat. Ia mengenakan sepatu tipis yang kelihatannya beranyam. Menurut dugaan saya, ia adalah seorang Bhikku dari aliran Mahayana atau Tantrayana. Namun hal ini baru dugaan saja, maklumlah, karena saya belum pernah beribadah di Vihara lain selain Vihara Theravada.

Setelah acara selesai, karena masih penasaran, saya bertanya pada salah seorang rekan panitia. Menurutnya, Bhikku tersebut mewakili Yayasan Bodi Cita. Yayasan keagamaan ini ternyata dua tahun terakhir terlibat aktif dalam masalah lingkungan, dengan melakukan kegiatan-kegiatan seperti rehabilitasi lahan dan pendidikan lingkungan. Luar biasa. Itu yang terlintas di kepala saya. Betapa tidak, jujur saja, selama ini sudah banyak sekali dakwah, ceramah dan himbauan mengenai kepedulian terhadap alam dan lingkungan. Namun hanya sebatas itu. Sebatas dakwah, ceramah dan himbauan. Sesuatu yang masuk telinga dan langsung menguap begitu saja tanpa pernah punya kesempatan untuk mengendap di otak barang sekejap. Dan yang paling miris adalah, tidak jarang saya menemukan orang yang sangat pandai merangkai kata untuk menceramahi atau mendakwahi orang lain, namun perilakunya tidak mencerminkan perkataannya. Bagaimana bisa mengajak orang lain berbuat baik sedangkan dirinya sendiri tidak konsisten?

Sudah saatnya untuk berbuat, tidak hanya sebatas wacana, tidak hanya sebatas kata-kata, tidak hanya sebatas ceramah. Salut untuk para tokoh atau aktifis keagamaan yang sudah melakukan sesuatu untuk lingkungan dan alam.

Medan, 250308

Tuesday, April 01, 2008

Kandang Monyet

Sewaktu berada di Medan untuk mengikuti workshop satu hari tentang penyusunan Multi Criteria Evaluation untuk lansekap Batang Toru, setelah selesai acara workshop saya berkesempatan untuk mengunjungi kandang monyet. Di kebun binatang? Bukan… sama sekali bukan. Kandang Monyet adalah julukan teman-teman OCSP (Orangutan Conservation Service Program) Medan untuk kantor (atau lebih tepatnya ruangan) mereka di sayap kiri bangunan utama kantor ESP.

Sempat saya bertanya kepada seorang teman di sana, mengapa ruangan tersebut mereka namakan Kandang Monyet. Bukankah lebih pas kalo dinakaman Kandang Orangutan karena program tersebut berkaitan dengan Orangutan, bukan Monyet. “Karena yang kerja di ruangan itu adalah monyet-monyet” jawabnya. J Monyet-monyet yang berkantor di sana antara lain Redho, Erwin, Rusmadi dan Ian. Di depan Kandang Monyet ada secuil ruang terbuka beratap yang dilengkapi dengan kursi dan meja taman. Sebuah dinding yang merupakan pembatas dengan rumah di sebelahnya digunakan untuk menggantungkan whiteboard. Tampak beberapa tulisan di sana. Tempat yang cukup asyik untuk rapat dan berdiskusi dengan suasana yang cukup asri.

Teman-teman di OCSP ini rata-rata suka sekali bercanda dan kompak. “Kerja kita sudah berat, jadi jangan diberat-beratin lagi, harus enjoy dan banyak bercanda” kata salah seorang kawan di sana. Hmm…. Saya sangat sepakat, sesuatu yang saya dapati agak “kurang” di tempat saya bekerja sekarang. Hanya sedikit yang memiliki mentalitas seperti itu, dan karenanya kami merasa agak “terspisah”.

Tampaknya tulisan ini harus segera saya akhiri karena saya menulis di dalam taxi yang membawa saya dari Balikpapan ke Samarinda, dan sudah tiba di bagian jalan yang sangat meliuk-liuk, naik turun, sangat tidak bersahabat bagi orang yang membaca atau mengetik.

KM 48 to Samarinda, 280308